Rabu, 06 Juli 2011

20 Perilaku yang Merusak Kepercayaan


"Tiada kata 'saya' dalam sebuah tim," begitulah ungkapan yang sering kita dengar di tempat kerja. Namun, faktanya, selalu ada anggota tim yang cenderung ingin menonjolkan diri, merasa berperan lebih atau paling besar di antara yang lainnya. Jika sudah begini, semangat tim pun menjadi rusak. Hubungan antaranggota diwarnai dengan ketidakpercayaan. Akibatnya, dikerja dan produktivitas pun terganggu. Kita semua bisa menghindari hal itu terjadi, dengan menjauhkan diri dari sikap-sikap dan perilaku-perilaku yang bisa merusak kepercayaan orang lain terhadap diri kita. Apa saja itu
1. Gagal menepati janji-janji, persetujuan dan komitmen
2. Mengutamakan kepentingan diri sendiri
3. Semua hal ingin dilakukan sendiri, dan menolak pendelegasian
4. Tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan
5. Pelit berbagi informasi penting
6. Menyembunyikan kebenaran
7. Suka menyalahkan orang lain, dan berusaha menutupi kesalahan sendiri

8. Lebih senang menghakimi dan mengkritik ketimbang memberikan umpan balik yang konstruktif
9. Tak mampu menjaga rahasia dan justru senang menggosipkan orang lain

10.
Membatasi kesempatan orang lain untuk ikut berkontribusi atau terlibat dalam pengambilan keputusan
11. Meremehkan bakat, pengetahuan dan keterampilan orang lain
12. Ogah mendukung pengembangan profesional orang lain
13. Menolak dinilai oleh kolega
14. Menolak berkompromi dengan argumentasi orang lain; mau menang sendiri

15. Tertutup
16. Lebih menyenangi sarkasme ketimbang humor
17. Tidak mengakui kekurangan dan tak mau minta bantuan orang lain
18. Menganggap saran dan kritik orang lain sebagai serangan terhadap pribadi

19. Tak banyak berkontribusi dalam berbagai meeting tim, dan malah cenderung mengganggu
20. Menggalang kelompok kecil untuk "melawan" keputusan tim.
(dari berbagai sumber-portalhr)

Mengelola Konflik dengan Teman Sekantor


Sebagian besar waktu dalam hidup kita dihabiskan di kantor. Kadang kita tak begitu menyadari hal itu. Atasan, bawahan dan teman-teman sejawat merupakan orang-orang yang sehari-hari berinteraksi dengan kita. Kehidupan di kantor menciptakan sebuah pergaulan yang tidak kalah "intens" dengan pergaulan sosial lainnya, seperti di sekolah atau dalam bertetangga. Kadang ada gosip, lain kali terjadi pertengkaran dan pada saat yang lain lagi kita "merasa perlu" untuk mendiamkan teman sekantor kita karena suatu masalah yang kita anggap sudah sampai pada taraf untuk malas bertegur sapa dengan yang bersangkutan.
Dalam perspektif "pergaulan sosial" tadi, konflik di tempat kerja merupakan hal yang wajar. Dalam arti, mungkin dan bisa saja terjadi. Mengingat, kantor berisi orang-orang yang datang dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Dari pendidikan hingga karakter pribadi. Idealnya, tentu saja, berbagai perbedaan itu bisa dijadikan sebagai penguat dalam hubungan kerja. Tapi, pada sisi lain, perbedaan di mana-mana sering menjadi bibit perselisihan. Jika itu yang terjadi, maka kita perlu pandai-padndai mengenali perbedaan-perbedaan tersebut, untuk kemudian mencoba mengatasinya agar tidak menjadi potensi konflik.
Hal pertama yang perlu kita perhatikan dalam mangelola konflik di kantor adalah menahan diri. Cukup sederhana kedengarannya, tapi ini tidak mudah dilakukan. Setiap orang punya ego (yang besar) dan masing-masing dari kita punya kecenderungan untuk mendesakkan dan mempertahankan ego kita, mengungguli ego orang lain. Ibaratnya, kalau bisa ngotot mengapa harus mengalah. Jelas itu prinsip yang salah. Cobalah untuk senantiasa menahan diri, terutama tentu saja pada saat-saat yang gawat, genting, di tengah perdebatan sengit atau pun dalam situasi-situasi yang tidak menyenangkan.

Jika Anda merasa sangat kesal, jengkel, marah kepada teman, jangan berlama-lama berada di dekat orang tersebut; segera tinggalkan ruangan. Jika situasi tidak memungkinkan Anda untuk melakukannya, misalnya karena sedang meeting dan Anda harus berada di situ sampai selesai, berusahalan untuk diam. Jangan sekali-kali berteriak, membentak atau lebih-lebih menggebrak meja, membanting atau melempar benda-benda. Setelah berusaha untuk menahan diri dari kemarahan, langkah selanjutnya Anda perlu mengontrol emosi. Wah, ini lebih susah lagi. Tapi, tenang saja, inilah caranya:

-- Cobalah untuk memahami perasaan lawan bicara, ini akan membantu Anda menghindari tindakan yang kontra-produktif.
-- Pengalaman masa lalu bisa membantu untuk mencari solusi atas konflik yang muncul sekarang. Ingat-ingatlah, apakah Anda pernah mengalami kemarahan yang sama sebelumnya.
-- Petakanlah arti hubungan Anda dengan teman-teman Anda, ini akan membantu Anda menempatkan konflik pada jalur yang benar, bukan sekedar mengumbar emosi. Tanyakan pada diri Anda, seberapa penting sebetulnya lawan bicara yang tengah berkonflik dengan Anda. Jangan sampai Anda bertengkar hebat dengan teman kerja yang sudah sekian tahun bersama-sama hanya untuk urusan kecil.
-- Tanyakan, apa lagi yang tengah Anda alami selain konflik dengan rekan Anda itu? Jangan-jangan Anda memang tengah dalam tekanan masalah di luar pekerjaan.
-- Tanyakan, apa yang Anda peroleh dari konflik tersebut? Jawaban dari pertanyaan ini akan membantu Anda memahami motif Anda yang sebenarnya. Jangan-jangan, Anda bertengkar semata-mata hanya karena tak ingin jatuh gengsi, misalnya.
-- Tanyakan juga, apa yang hendak Anda pertaruhkan dengan konflik tersebut? Kalau bukan persoalan yang memang krusial, jangan menghabiskan energi hanya untuk bertengkar. Mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi akan membantu Anda membuat keputusan yang tepat.
(dari berbagai sumber-portalhr)

6 Pembunuh Karir Anda


Anda pasti baru saja memasukkan kata "karir" dalam daftar resolusi 2008 yang Anda buat sebulan yang lalu. Bagaimana sejauh ini, apakah Anda sudah mengambil langkah-langkah awal untuk mewujudkannya? Apapun yang Anda harapkan dari karir Anda tahun ini, yang pasti merujuk pada perkembangan, kemajuan dan peningkatan ke arah yang lebih baik dan menjanjikan.

Sambil terus melakukan upaya-upaya yang mendukung terpenuhinya harapan-harapan tersebut, Anda juga perlu mengenali faktor-faktor penghambatnya. Dengan mengenalinya sejak dini, akan akan terhindar dari kemungkinan kegagalan yang tidak Anda perhitungkan.
Setidaknya ada 6 "dosa" yang harus Anda hindari di tempat kerja. Kalau tidak, 6 hal itu tidak hanya akan menjadi perintang melainkan bahkan juga akan membunuh karir Anda.

1. Bangga
Keberhasilan demi keberhasilan di tempat kerja membuat Anda merasa luar biasa sehingga cenderung mengecilkan fakta bahwa itu semua tak lepas dari dukungan atau pun asistensi orang-orang di sekitar Anda, dan khususnya mereka yang berada di bawah Anda. Anda pun menjadi seorang yang egosentris, dam lambat-laun --mungkin tanpa Anda sadari- mulai meremehkan dukungan orang lain. Kebanggaan pada diri yang berlebihan akan mematikan semangat tim yang hakikatnya dibangun dari bawah dan bisa mempercepat laju karir seseorang. Merasa diri adalah bagian dari kesatuan sebuah tim, akan memberi sukses yang berjangka panjang.

2. Iri Hati
Penghargaan kepada individu diberikan oleh perusahaan berdasarkan prestasi yang dicapai oleh yang bersangkutan. Tapi, Anda selalu mempertanyakan, "Apa dia pantas mendapatkannya?" dan lalu merasa, "Saya lebih pantas." Perasaan seperti itu bisa merusak dan menjauhkan Anda dari kemampuan untuk fokus pada tugas dan tanggung jawab yang ada di tangan Anda sendiri. Menjadi orang yang selalu mencemburui orang lain di tempat kerja bisa menyabotase harga diri Anda. Dan, harga diri adalah karakteristik penting dari setiap pekerja atau pun eksekutif yang sukses. Daripada iri hati, lebih baik saling bergandeng tangan bahu-membahu, dan itu bisa memotivasi kerja menuju sukses.

3. Marah
Kemarahan perlu dikontrol. Marah tidak memberi keuntungan apapun di tempat kerja. Tak seorang pun akan terbantu kalau Anda marah. Sebaliknya, marah hanya akan merusak reputasi dan citra Anda di mata teman, atasan maupun bawahan. Boleh saja Anda tidak setuju dengan orang lain, dan berusaha untuk melindungi kepentingan Anda akan sebuah pekerjaan atau proyek yang sedang Anda tangani. Dan bagus kalau Anda merasa passionate pada tugas Anda. Namun pelajarilah bagaimana menyalurkan emosi-emosi itu dalam aksi-aksi yang akan menguntungkan Anda di mata orang lain, khususnya tentu di mata atasan. Seorang yang mudah marah jarang sekali mendapatkan promosi kenaikan jabatan karena dinilai akan sulit menginspirasi atau memotivasi orang lain.
4. Berpikir pendek
Selalu ingin "lebih" dan "segera" adalah hasrat yang mendasari setiap usaha untuk mencapai tujuan-tujuan karir. Namun, menyalurkan hasrat itu secara ekstrim, misalnya dengan "menghalalkan segala cara" akan merugikan diri sendiri. Anda jadi kehilangan arah dan kehidupan Anda menjadi tidak seimbang. Jalan menuju sukses menghendaki pendekatan jangka panjang dalam semua aspek pekerjaan. Fokus pada kecepatan dan capaian-capaian jangka pendek hanya baik untuk sesaat, dan ketika dihadapkan pada hal-hal di tahap berikutnya, Anda tidak siap.
5. Mudah puas
Pada sisi lain, mudah puas dan kemalasan tidak memiliki tempat di dunia kerja. Setelah berhasil mencapai satu tahap lalu berhenti dan berharap capaian itu bisa mengantarkan ke sukses berikutnya dalam perjalanan karir adalah mustahil. Lebih-lebih dalam iklim kompetitif dewasa ini, hanya mereka yang terus berproses dan menindaklanjuti pertumbuhannya, dan senantiasai memperbarui kontribusinya yang akan sukses.
6. Ketidakseimbangan
Sejumlah orang bergerak naik terlalu cepat dalam jenjang jabatan perusahaan tapi kemudian berakhir dengan kegagalan. Segala yang berlebihan dan tidak wajar tidaklah bagus --khususnya jika Anda tidak siap dengan tantangannya. Penting untuk memastikan bahwa Anda tidak hanya siap secara profesional untuk mengambil tantangan yang lebih besar, tapi juga kehidupan personal juga mesti disiapkan untuk tuntutan-tuntutan baru tersebut. Mencapai sukses karir sebaiknya tidak mengesampingkan keseimbangan hidup, dan hasrat profesional yang "salah tempat" bisa menciptakan masalah di kemudian hari.
(dari berbagai sumber-portalhr)

Mengoptimalkan Presentasi sebagai Peluang Sukses

Dalam dunia kerja atau bisnis modern, presentasi merupakan aktivitas yang tak lagi bisa dihindari. Setiap profesional dituntut untuk memiliki skill berbicara di depan umum, lewat pemaparan ala "power-point" dan menjadi pusat perhatian. Bagi yang tidak biasa, kegiatan ini barangkali cukup menakutkan dan membuat gugup. Namun, kalau Anda ingin bersinar di mata orang lain, klien maupun lingkungan serta jaringan kerja Anda, maka tidak ada pilihan lain.

Dalam organisasi apa pun, tampil sangat penting untuk dikenal dan untuk maju. Presentasi, maupun bentuk yang lebih "jadul", misalnya pidato, merupakan sarana terbaik untuk menampilkan diri. Namun, seperti bentuk-bentuk penampilan publik umumnya, selalu ada risiko. Jika momen Anda di panggung tampak buruk, reputasi Anda akan rusak selamanya. Anda dapat meminimalkan risiko itu, dan mengoptimalkan potensi kemenangan dengan persiapan yang cermat.

Menurut Dr Karen Otazo dalam bukunya yang telah diterjamahkan ke dalam Bahasa Indonesia berjudul Kebenaran tentang Mengelola Karier Anda (Esensi, Jakarta, 2007), persiapan tidak hanya mencakup penguasaan subjek, meskipun itu pasti penting. Kunci sesungguhnya untuk sukses adalah bersiap untuk audiens dan harapan mereka, dengan menetapkan sebeluknya, kesan apa yang ingin Anda tinggalkan kepada mereka. Sehingga, Anda dapat meracik setiap aspek presentasi Anda.
"Berpikirlah tentang bagaimana Anda ingin tampak di mata orang, bukan hanya melalui kata-kata tapi juga penampilan Anda," ujar pelatih eksekutif global dan konsultan bagi berbagai perusahaan multinasional di seluruh dunia itu. Ditambahkan juga, bagaimana Anda menanggapi pertanyaan juga merupakan aspek penting yang harus diperhatikan dalam presentasi. "Semakin kurang familiar kelompok yang akan Anda hadapi, persiapan Anda juga harus semakin banyak," saran dia.
Berikut tips mengoptimalkan presentasi Anda agar menjadi peluang untuk bersinar dan meraih sukses, yang dirangkum dan diolah dari Dr Karen Otazo:

1. Tunjukkan Anda menguasai bidang Anda dan memegang kendali atas masalah.

-- Presentasikan ide Anda dengan jelas dan logis sehingga audiens merasa yakin dengan Anda karena mereka memahami argumen Anda.
-- Berikan benang merah atau tema yang jelas bagi mereka melalui poin-poin yang Anda sajikan.
-- Slide sangat berguna untuk membantu Anda tetap pada jalur, tapi tuliskan pemicunya saja, bukan segalanya yang ingin Anda katakan.
-- Betapa pun cintanya Anda pada topik itu, tahanlah godaan untuk memberi tahu segalanya pada audiens.
-- Buatlah presentasi Anda fokus dan pendek, orang hanya dapat mengingat sekitar tiga poin saja.
2. Pastikan pendapat Anda didengar.
-- Berbicaralah layaknya seorang profesional agar Anda dipandang sebagai orang yang memiliki otoritas.
-- Berpakaianlah satu tingkatan lebih tinggi daripada audiens Anda; jika mereka berbusana santai, Anda harus memakai setelan bisnis.
-- Mengutip pemikiran dan pendapat manajemen senior bisa mendatangkan respek.


3. Menghadapi pertanyaan dengan percaya diri dan meyakinkan.
-- Buatlah orang terkesan dengan kemampuan menjawab pertanyaan yang sulit dengan baik.
-- Ada kalanya perlu menanggapi pertanyaan dengan humor yang baik.
-- Tangkis pertanyaan antagonistis dengan respons netral, atau:
-- Dengan tenang dan percaya diri mengakui Anda tidak tahu jawabannya tapi akan mencari tahu.
4. Tetap tenang dalam kondisi tertekan. Bersiaplah jika slide-nya tidak berfungsi misalnya, dan nikmatilah berbicara tanpanya. Hadapi segala bentuk kegagalan teknologi dengan inisiatif dan ketenangan.
(dari berbagai sumber-portalhr)

Kelola Energi Anda, Bukan Waktu


Dari hari ke hari, organisasi terus dituntut untuk semakin perform. Akibatnya, para karyawan pun tak henti-henti mencoba untuk meningkatkan kinerjanya. Tak jarang, hal itu menimbulkan kelelahan, bosan dan sakit. Panjangnya jam kerja di kantor tidak banyak membantu karena waktu merupakan sumber daya yang terbatas. Tapi, energi setiap orang merupakan sumber daya yang senantiasa bisa diperbaharui. Oleh karenanya, jika ingin sukses di era yang kompetitif saat ini, organisasi perlu mendorong karyawan untuk memperhatikan management energi mereka. Manajemen waktu sudah tidak relevan lagi.


Kolumnis dari Harvard Business Review, Tony Schwartz dan Catherine McCarthy mengatakan, ada 4 dimensi besar dari energi kita yang perlu diupayakan pembaharuannya terus-menerus. Yakni, Fisik, Emosional, Mental dan Spiritual. Lebih jauh, keduanya merekomendasikan sejumlah latihan untuk menyegarkan masing-masing energi tersebut.
Energi Fisik:
--  Tidur lebih awal dan kurangi, atau kalau perlu hindari, konsumsi alkohol.
-- Hindari stres dengan rajin berolah raga.
-- Makanlah makanan ringan setiap 3 jam sekali.
-- Antisipasi tanda-tanda penurunan energi seperti kecapekan, lapar dan sulit konsentrasi.
-- Sering-seringlah istirahat sebentar, tinggalkan meja kerja setiap 90 hingga 120 menit.
Energi Emosional:
-- Hindari perasaan-perasaan negatif seperti mudah tersinggung, tidak sabaran, kesepian --dengan selalu menarik nafas dalam-dalam.
-- Sebaliknya: timbulkan perasaan-perasaan positif dalam diri Anda dan orang lain dengan menunjukkan sikap-sikap yang apresiatif, obrolan ringan, saling berkirim email humor atau artikel menarik lainnya.

Energi Mental:
-- Kurangi berbagai interupsi dengan berkonsentrasi-tinggi pada pekerjaan-pekerjaan, dan menjauhkan diri dari telepon dan email.
-- Merespon email maupun voice mail pada waktu-waktu tertentu yang sudah didesain.
-- Setiap malam, tentukan tugas paling mendesak yang harus diselesaikan esok hari.
Prioritaskan hal itu ketika tiba di kantor pada pagi hari.
Energi Spriritual:
-- Temukan "sweet spot" dari aktivitas-aktivitas Anda --yakni hal-hal yang membuat Anda merasa efektif, bersemangat dan tertantang.
-- Alokasikan waktu dan tenaga untuk hal-hal yang Anda anggap paling penting. Misalkan, buatlah diri Anda rileks pada 20 menit terakhir sebelum pulang, sehingga begitu sampai di rumah, Anda langsung bisa "nyambung" dengan keluarga.
-- Kenali keunggulan maupun kelemahan yang Anda miliki. Misalnya Anda merasa sulit tepat waktu, maka usahakan bersiap diri jauh-jauh sebelum jadwal meeting.

Bagaimana Perusahaan Membantu?
Untuk mendorong dan membantu karyawan mewujudkan usaha menyegarkan energi mereka, pihak perusahaan bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:

--Sediakan ruangan khusus yang bisa digunakan oleh karyawan untuk bersantai.
-- Mensubsidi keanggotaan klab senam atau fitness bagi karyawan.
--Mendorong para manajer untuk mengizinkan karyawan memiliki "midday workouts".
-- Menyarankan setiap orang untuk berhenti mengecek email selama meeting berlangsung.
(dari berbagai sumber-portalhr)

Membangun Kepemimpinan HR yang Kuat


1. Clarity
Menjadi praktisi atau apalagi pemimpin HR pertama kali dituntut kejernihan cara berpikirnya. Jangan plin-plan, janga "lembek". Banyak orang HR sekarang ini tidak bisa tegas dengan pendiriannya sehingga hanya mengikuti saja apa kata CEO.

2. Vision
HR harus tahu apa kebutuhannya sesuai ke mana arah perusahaan.

3. Passion
Passion datang setelah visi dirumuskan dengan jelas. Passion membuat orang percaya pada apa yang dilakukannya, dan kepercayaan tersebut merupakan garansi untuk sukses.
4. Courage
Memberikan dorongan, memotivasi dan membuat karyawan bekerja dengan penuh semangat merupakan tugas mulia HR. Banyak karyawan yang melakukan pekerjaannya sekedar mencari aman, dan peran HR-lah untuk membuat mereka mampu bekerja dengan keberanian mengambil risiko.

5. Follow-up
Segala program, rencana, keputusan tidak akan berarti apa-apa kalau tidak ada tindak lanjut. Ini memang suatu yang kadang justru terasa lebih berat ketimbang ketika membicarakannya. Di atas kertas, berbagai program bisa sangat menarik, tapi adanya tindak lanjut akan membuatnya menjadi jauh lebih menarik.


6. Delegate
Jangan melakukan banyak hal sekaligus, dan jangan melakukan semuanya sendirian. Delegasikanlah pekerjaan yang bisa didelegasikan. Orang yang tidak bisa mendelegasikan pekerjaan adalah orang yang tidak tergorganisasi.

7. Be consistent
Seorang pemimpin yang baik tidak mengenal kata "mood". Kalimat terburuk adalah, "Hari ini saya sedang tidak mood untuk mengerjakan itu." Pastikan Anda seorang yang konsisten.
8. Look out for talent.
Kalau Anda seorang pemimpin HR, kenali talent yang ada di kantor. Siapa cocok di bidang apa. Tapi, ada satu prinsip yang perlu dipegang. Ibaratnya, ada orang yang berbakat menjadi pemain bola, ada yang berbakat menjadi rocker, tapi semua orang harus bisa menjadi manajer.
9. Command
Pastikan Anda memiliki sistem rantau komando yang jelas. Sehingga jika terjadi kesalahan tidak saling menuding siapa yang bertanggung jawab.

10. Pay them well
Kepemimpinan Anda belum lengkap jika belum mempertimbangkan soal kelayakan dalam menggaji karyawan.  
(dari berbagai sumber-portalhar)

Selasa, 05 Juli 2011

Mempromosikan Diri tanpa "Menjilat"

Banyak cara untuk mencari perhatian di tempat kerja, baik itu dari teman-teman satu tim maupun dari atasan. Siapa sih yang tak ingin kelihatan menonjol di mata orang lain. Lebih-lebih dalam konteks pekerjaan, "menonjol" bisa membantu mempercepat kemajuan karier. Namun, berhati-hatilah. Keinginan yang terlalu menggebu untuk terlihat paling menonjol di antara yang lain di kantor, salah-salah bisa membuat Anda "over-acting". Bila ini terjadi, bukannya simpati atau penilaian yang positif yang Anda dapatkan melainkan justru label buruk, misalnya Anda bisa dicap sebagai penjilat. Memangnya Anda mau mendapatkan penghargaan sebagai The Most Likely to Kiss Some Boss Butt?

Oleh karenanya sebelum Anda beraksi di tempat kerja, pastikan dulu Anda mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Apakah Anda tipe karyawan yang sebenarnya tidak memiliki keterampilan yang jelas dalam bidang tertentu, namun pintar memanfaatkan situasi dan mencari celah untuk mempromosikan diri
2. Apakah Anda suka membuatkan kopi untuk bos, sambil berusaha agar semua orang tahun bahwa Anda melakukannya
3. Apakah Anda selalu merasa punya andil dan jasa atas kesuksesan orang lain, padahal kenyataannya tidak demikian, atau andil dan jasa Anda tidak sebesar yang Anda gembar-gemborkan
4. Sebaliknya dari no.3, apakah Anda gemar mencari kesalahan orang lain untuk kegagalan pekerjaan Anda
5. Apakah Anda punya kebiasaan mengulur-ulur waktu meeting dengan komentar-komentar panjang yang "nggak penting", sekedar untuk menunjukkan bahwa Anda ada di situ
6. Apakah Anda suka menggosipkan teman-teman sekerja, dan menceritakan kekurangan mereka kepada atasan
7. Apakah Anda orang terakhir yang meninggalkan kantor padahal sebenarnya tak ada alasan apapun bagi Anda untuk pulang belakangan
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut "tidak", maka Anda memang bukan seorang penjilat. Namun, jika Anda masih ragu-ragu atau bahkan diam-diam mulai mengakui bahwa semua itu adalah kebiasaan Anda sehari-hari selama ini, maka Anda sebenarnya bukanlah karyawan yang berdedikasi seperti yang Anda pikirkan. Artinya, inilah saatnya bagi Anda untuk berubah, demi kesehatan karier Anda. Sebab, percayalah, di mana pun tak ada tempat bagi orang yang menempuh cara-cara yang bersifat menjilat dalam mengejar kemajuan karier di tempat kerja.
(dari berbagai sumber)